Oleh Muhammad Husnil (Peneliti di Laboratoriam Kota)
[Judul: Demokrasi dan Kekecewaan; Penulis: Goenawan Mohamad dkk.; Penyunting: Ihsan Ali-Fauzi & Samsu Rizal Panggabean; Penerbit: Pusat Studi Agama dan Demokrasi Yayasan Wakaf Paramadina; Tahun: I, April 2009; Tebal: xvi + 100 halaman]
Mencermati demokrasi dalam perjalanan bangsa Indonesia seumpama melihat remaja yang tengah merajuk kepada kekasihnya. Sikapnya tak tentu, rindu juga benci. Bangsa ini merindukan demokrasi guna menjamin kesetaraan dan kebebasan warga negara. Tapi, mereka juga membenci demokrasi bukan tanpa alasan: ia acap melahirkan mudarat.
Mudarat yang paling nyata adalah menjamurnya korupsi anggota Dewan atau partai politik yang hanya menjadi parasit di masyarakat. Kondisi ini membuat Goenawan Mohammad gusar. Goenawan menengarai kondisi ini lahir akibat dari demokrasi yang berjalan pada titik prosedural semata.
Goenawan menelisik lebih dalam guna mencari akar permasalahan yang sebenarnya. Lalu, ia mendapati kenyataan bahwa demokrasi mengecewakan karena ia mendasarkan pada suara terbanyak atau konsensus. Dengan begitu, demokrasi akan menyingkirkan apa yang dianggap menyimpang, apa yang obsence. Maka, demokrasi tampak sebagai sesuatu yang tak hendak membuka diri pada alternatif-alternatif baru. Pasalnya, sebagian besar orang tak menghendaki perubahan ekstrem.
Goenawan mengungkapkan kegusarannya dalam esai Demokrasi dan Disilusi. Esai itu kemudian mendapatkan tanggapan dan kritik dari sejumlah ilmuwan sosial, seperti R William Lidle, Rocky Gerung, Robertus Robet, Dodi Ambardi, Samsu Rizal Panggabean, dan Ihsan Ali Fauzi. Esai dan tanggapan itu kemudian dibukukan dengan judul Demokrasi dan Kekecewaan.
Meski demikian, Goenawan tidak pesimistis akan demokrasi. Sebaliknya, Goenawan mengimani bahwa demokrasi merupakan jalan lempang bagi Indonesia menuju kesetaraan dan kebebasan. Meski demokrasi bukan sistem terbaik, sementara ini tak mungkin kita mengambil pilihan lain.
Goenawan pun mengajukan solusi, satu-satunya jalan yang masih terbuka adalah terus bersetia untuk mengembalikan politik sebagai perjuangan (la politique). Sebab yang menggerakkan adalah mereka yang bukan apa-apa, yang tak punya hakikat dan asal-usul untuk menang.
Goenawan cenderung mengamini pendapat Robertus Robet tentang makna kedua dari politik. Politik, menurut Robet, memiliki dua makna. Pertama, sisi di mana politik terjadi begitu saja dalam rutinitas kelembagaan dan perilaku aktornya; kedua, politik yang diharapkan yang tersimpan secara potensial, tak teraktualisasikan, politik sebagaimana diidamkan, yang tertekan di bawah instansi ketaksadaran.
Namun, R William Liddle menanggapi bahwa Goenawan terlalu menekankan peran gerakan atau mobilisasi dari luar sistem demokrasi sebagai solusi. Profesor ilmu politik The Ohio State University itu tak setuju jika demokrasi dan perjuangan dipertentangkan. Perjuangan memainkan peran, tentu saja, tapi itu harus dipandang sebagai satu bagian dari seluruh sistem demokrasi.
Dari seluruh perdebatan dalam buku ini, tampak bahwa bangsa ini mesti terus belajar berdemokrasi. Sebagai sebuah sistem yang berjalan dalam sejarah manusia yang dinamis, demokrasi memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, alangkah bagusnya bila kita menerima dengan antusias dan lapang dada setiap kekurangan dan kelemahan yang timbul dalam demokrasi.***
(Dimuat di Koran Jakarta, 30 Agustus 2009)










