Demokrasi, Kecewa dan Harap
Oleh Testriono
KETIKA politik jatuh menjadi semata-mata persaingan rutin mengejar kuasa dengan berbagai cara, demokrasi jadi nasib buruk yang tak dapat ditampik. Ulah para anggota DPR yang korup, politikus yang hanya berkhidmat kursi, dan partai-partai yang terlampau egoistis mengejar kepentingannya membuat harapan pada demokrasi jadi retak.
Demokrasi dan bagaimana kekecewaan terhadapnya dirumuskan, itulah yang muncul dalam buku Demokrasi dan Kekecewaan. Sampul buku ini menegaskan kekecewaan itu sembari mengejek: memajang poster kampanye sejumlah calon anggota legislatif dengan aneka gaya, dari superman sampai rocker. Itukah hasil demokrasi kita?
Demokrasi, Sebuah Perdebatan Panjang
Oleh Muhammad Shofan
DALAM prakteknya, demokrasi lebih sering berhenti dalam ‘pelembagaan formal’ dan belum hadir dalam realitas nyata. Dengan kata lain demokrasi hanya tumbuh dan berkembang dalam tataran ideal (das sollen) belum mewujud dalam tataran realitas. Melihat betapa korupnya para anggota DPR, tak jelasnya lagi alasan hidup partai-partai, kecuali untuk mendapatkan kursi, membuat Goenawan Mohamad (GM) sempat berpikir bahwa demokrasi mengandung disilusi dalam dirinya. Pernyataan Albert Camus, yang amat terkenal, “All that was is no more, all that will be is not yet, and all that is is not sufficient”, kiranya sangat relevan untuk menggambarkan kondisi bangsa saat ini.
Berharap Demokrasi Tak Mudarat
Oleh Muhammad Husnil
MENCERMATI demokrasi dalam perjalanan bangsa Indonesia seumpama melihat remaja yang tengah merajuk kepada kekasihnya. Sikapnya tak tentu, rindu juga benci. Bangsa ini merindukan demokrasi guna menjamin kesetaraan dan kebebasan warga negara. Tapi, mereka juga membenci demokrasi bukan tanpa alasan: ia acap melahirkan mudarat.
Mudarat yang paling nyata adalah menjamurnya korupsi anggota Dewan atau partai politik yang hanya menjadi parasit di masyarakat. Kondisi ini membuat Goenawan Mohammad gusar. Goenawan menengarai kondisi ini lahir akibat dari demokrasi yang berjalan pada titik prosedural semata.










